Dari Sebuah Masa (3) – Kecap Peranakan

Pabrik Kecap Pasar Lama Tangerang
Teng Tek Yan. Pabrik Kecap Burung di Pasar Lama Tangerang, Indonesia

Tulisan & foto oleh : Dharmawan

Adalah Setyadi – Teng Tek Yan – yang berpembawaan ramah, berkantor di sini: bagian belakang dari sebuah rumah tua dengan ubin terakota 30x30cm, dengan sebagian atap transparan. Inilah generasi keempat Teng Hay Soey, dan kemudian diteruskan Teng Giok Seng, perintis “fabriek” Kecap Benteng pada 1882. Delapan puluh lusin saja sehari, dengan rasa khas “keluaran cina benteng” : bumbu kayu manis dan bunga lawang, yang membuatnya begitu sedap.

Dari dulu, di sini, di Pasar Lama, Tangerang, diusahakan secara rumahan, dengan isi sebotol 620ml. Pabrik pembuatan berseberangan dengan tempat simpan stok dan kantor administrasi.

“Dulu kami menggunakan gula dari Purwokerto. Tapi terlalu banyak campuran ubi. Belakangan kami pakai yang dari Sukabumi. Ada campuran kelapanya.”

Mengapa menggunakan dua label dengan dua lambang: istana dan burung?

“Karena kami tidak punya hak menggunakan merek burung, ya pakai merek Istana.”

Label dengan merek istana itu disertai klaim: kecap benteng tulen. Hanya dijual di pasar tradisional.

Peta Kecap Benteng Istana, Tangerang :

2 tanggapan untuk “Dari Sebuah Masa (3) – Kecap Peranakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s