Baduy Dalam di Cibeo

baduy-lebak
Anak ini namanya Sarim, umur 6 tahun. Dipinggang kirinya ada pisau tajam. Dia sanggup jalan kaki 4 jam, melewati bukit, untuk mengantar saya pulang, dan kembali lagi ke Cibeo. Anak kecil biasanya harus dijauhkan dari benda tajam. Bagaimana kalau dia bertengkar dengan temannya ? Jawab Idong, ayahnya Sarim,
“Dari dulu belum pernah ada yang berkelahi pakai pisau”
“Kan sudah dikasih tahu pisau itu gunanya buat motong kayu, kupas buah”

Idong Ayah Pulung menyodorkan piring keramik tebal, ada hiasan mirip hutuf Cina.
“Ini masakan orang sini”
Isinya sayur sejenis daun dan kacang panjang. Rasanya sangat saya kenal.
“Ini daun apa ?”
“Daun kencur”
Sayur itu gurih, tapi tidak kelihatan bumbu lain.
“Bumbunya apa ?”
“Cuma Masako aja”, jawab Idong.

Saya sedang di rumah Idong di Cibeo,  salah satu dari 3 commune Baduy Dalam di desa Kanekes. Disini semua rumah bermodel panggung dari kayu, bambu, ijuk dan daun kelapa kering untuk atap. Tidak ada paku yang diimport untuk membangun rumah ini.

—-”—-

Masyarakat Baduy Dalam dikenal sangat keras mempertahankan tradisi. Mereka mempunyai sistem pemerintahan sendiri, sangat membatasi perdagangan ekonomi dan menolak banyak produk tehnologi terutama alat transportasi.

Saat masuk Cibeo, terlihat deretan rumah bambu yang seragam. Beberapa anak berpakaian khas Baduy Dalam bermain didepan pos ronda. Tidak ada listrik atau perangkat elektronik.. Tidak terlihat barang moderen, tapi bukan berarti desa ini tidak berubah.

Peralatan makan yang mereka pakai sangat sederhana. gelas bambu, piring keramik dan botol bekas bahan kimia. Botol itu sudah “diterima” sebagai tempat air minum.
“Kalau masih baru musti direndem dulu disungai 3 hari, biar racunnya hilang ”, kata Idong.
Entah bagaimana ceritanya botol itu bisa sampai ke Cibeo,

badui-cibeo
Pemuda Badui Dalam

Saya bertemu Juli di Ciboleger, sedang duduk di warung, sambil minum larutan penyegar cap Kaki Tiga.
“Saya selesai antar tamu, sudah ke Alfamart” katanya.
Jajan ke Alfamart sudah menjadi ritual warga Cibeo yang ke Ciboleger.

Suguhan berikutnya keluar. Jagung rebus pendek gemuk, dari ladang. Saat sedang makan jagung seorang salesman, dari pakaiannya terlihat bukan warga Baduy Dalam,  menerobos masuk. Menawarkan T shirt, gantungan kunci, dan “batik khas Baduy”. Kain batik printing, mungkin import dari Cina, anehnya dietiketnya tertulis “Batik Tulis Solo”.

Karena banyaknya pengunjung, ada warga luar yang membuka warung, sesuatu yang terlarang buat warga Baduy Dalam.

Saat Jenny berkunjung ditahun 1988, warga Baduy Dalam hanya mau memakai sistem barter. Saat ini beberapa warga Cibeo sudah berjualan dengan cara yang halus. Barang dagangan ditaruh ditempat yang mudah terlihat. Disudut rumah ada beberapa botol madu. Tidak lama Santa, tetangga Idong, datang dengan memegang golok pamor*. Madu dijual seharga 60,000 perbotol, sedang golok pamor 200,000 rupiah.

Dikalangan warga Baduy Dalam sendiri transaksi uang sudah terjadi. Santa bercerita bagaimana ia bisa mengerjakan ladangnya dengan cepat
“Saya suruh teman saya yang ngerjain” kata Santa sambil tersenyum.
“Sepuluh orang yang ngerjain, jadi cepet selesai. Saya kasih 400 ribu”

tangan-badui

Pengobatan modern seperti antibiotik memang sudah banyak dipakai, meski beberapa seperti foto sinar-x dan operasi masih dilarang**. Waktu berkunjung kerumah Aldi, anaknya yang tadi bermain didepan pos ronda terlihat dibalut kakinya . Rupanya ia terpeleset dan kakinya berdarah.

“Diobatin pakai apa ?“, saya bertanya.
“Cuma Betadine aja”, jawab Aldi.

—-”—-

Waktu sudah sore, saat mandi. Banyak orang berjalan ke arah sungai, mayoritas wisatawan lokal. Bagian hulu untuk mandi, sikat gigi dan sumber air minum, bagian untuk buang air di hilir. Airnya bening, tidak ada bungkus shampoo atau sabun. Barang-barang itu masih dilarang disini

—-”—-

Malamnya kami berkunjung ke rumah Sardi, ada beberapa warga Cibeo disana. Pria Cibeo selalu membawa golok, bahkan anak kecil sudah membawa pisau. Bagaimana kalau terjadi perkelahian, tanya seorang teman.
“Disini anak kecil sudah pada bawa golok, tapi kalau berkelahi nggak ada yang pakai”, jawab Sardi.

Seorang dari mereka mengeluarkan notes kecil, meminta alamat dan nomer telpon saya. Mereka tidak boleh bersekolah, tapi beberapa tidak buta huruf.
“Kalau belajar nulis dari teman sih boleh2 aja” kata Sardi.
Mereka tidak melarang belajar, hanya menolak sistem pendidikan formal. Mungkin karena muridnya sering memakai golok buat berkelahi.

=====”=====

*golok dengan bilah besi yang dilipat beberapa kali dalam proses pembuatannya. Pelipatan akan menghasilkan garis2 sepanjang mata golok.

**Perawatan kesehatan yang lebih baik menjadikan populasi mereka bertambah. Akibatnya lahan pertanian Baduy Dalam berkurang. Saat ini padi hasil panen hanya cukup untuk hidup 6 bulan, kekurangannya harus dibeli dari luar Baduy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s