Copenhagen, Kota Bajak Laut Yang Tenang

copenhagen-stroget-at-night
Suasana Stroget, daerah pertokoan Copenhagen, saat malam hari

Copenhagen, kota pesisir, ibu kota kerajaan Denmark. Kota yang berlangit abu-abu, jalan yang penuh sepeda dan pejalan kaki; berpakaian hitam berwajah dingin dan bertutur kata halus. Kota dimana Soren Kierkegaard dilahirkan, dan Hans Christian Andersen di makamkan.

Meskipun sebuah kota pesisir, tidak banyak warna cerah di sini. Gedung warna-warni hanya ada di pelabuhan tua Nyhavn, tempat saya menemukan WC umum paling bersih yang pernah saya lihat.

Ramah dan rendah hati

Kota ini terasa ramah, rendah hati, walaupun mungkin agak aneh. Gedung-gedung abad ke 17 dan modern berdiri berdampingan. Arsitekturnya sederhana, tidak terlihat usaha memegahkan diri. Bangunan-bangunan tuanya terawat baik, dan masih dipakai.

Kalau saat saya kecil ibu saya sering mem vermaak pakaian, di sini gedung yang di vermaak. Di lokasi bekas pelabuhan Islands Brygge, gudang dan pabrik tahun 1960an lahir kembali sebagai kantor dan apartemen.

Sedikit sekali pencakar langit di sini, yang adapun tidak terlalu tinggi. Paling tinggi adalah menara istana Christianborg setinggi 106 meter, tidak sampai separuhnya tinggi Wisma BNI. Warga Denmark memang lebih suka tinggal dekat dengan tanah. Entah apa sebabnya, mungkin budaya petaninya yang masih kuat, Denmark termasuk negara Eropa yang paling akhir memasuki era industri. Yang pasti di negara sosialis ini, tidak ada perbedaan yang besar dalam hal apapun, baik itu gaji, pendidikan atau penampilan. Yang pasti, gedung pencakar langit yang di beberapa negara dianggap sebagai simbol kemodernan tidak disukai di sini. Di Copenhagen, kemajuan tidak diukur dengan ketinggian.

Mungkin juga karena pengaruh sistem sosialismenya, di negara kaya ini tidak terlihat Ferari. Yang ramai malah pejalan kaki dan sepeda. Trotoar lebar dan jalan-jalan bebas kendaraan bermotor, membuat berjalan kaki atau naik sepeda sangat nyaman di sini.

copenhagen-side-street
Iklan di pusat kota Copenhagen

Sepeda, sepeda dan sepeda

Kota ini memang dikenal sebagai kota sepeda. Sepeda ada dimana-mana. Berwarna gelap seperti pakaian orangnya, dan modelnya tidak jauh beda dengan sepeda milik ayah saya dulu.

Saya pernah naik sepeda ke sekolah, dulu saat masih taman kanak-kanak, di abad yang sudah lewat. Tiap pagi bapak saya selalu mengantar saya sebelum ia melanjutkan perjalanan ke sekolah tempatnya mengajar. Ia sangat bangga dengan sepeda itu, satu-satunya kendaraan kami. Kata bapak saya, sepeda itu kwalitet-nya bagus,

Saya masih ingat kata-katanya : “Semuanya orisinil Humber, dari lampu sampai pompanya Humber semua”.

Di Copenhagen semua memang sederhana, tenang, dan meminjam istilah ayah saya, ber-kwalitet; baik hidup maupun barang.

copenhagen-sleeping-on-bench
Halaman balaikota tengah malam. Persis di depan museum Hans Christian Andersen

Untuk bisa bersepeda ke kantor tidak murah. Pemerintah kota Copenhagen menghabiskan waktu puluhan tahun dan entah berapa juta Krone supaya penduduknya bisa, dan mau, naik sepeda ke kantor. Kota dirancang ulang, jalur khusus sepeda, jembatan sepeda diatas laut, tempat sepeda di kereta dan bis, semua harus dibuat.

Hasilnya satu kota yang tenang, tidak berisik. Tempat dimana naik sepeda lebih cepat dari mobil.

copenhagen-girl
Sore di Islands Brygge, Copenhagen, bekas pelabuhan yang diubah menjadi perkantoran dan tempat tinggal

H.C Andersen dan bajak laut Viking

Meski nyaman dan tenang, ada satu hal yang menggangu : mereka semua berwajah dingin. Setelah saya ingat-ingat, memang kisah-kisah H.C. Andersen, pengarang kegemaran saya saat sekolah dasar, semuanya penuh tragedi. Pegawai tokopun melayani tanpa senyum di wajah. Mungkin sifat turunan nenek moyang mereka, bajak laut Viking, yang sangat tekun merampok dan  memerkosa sampai seberang lautan. Tapi seharusnya bajak laut malah suka berteriak-teriak ya. Di kereta malah ada stillezone, ruangan khusus dimana bicarapun dilarang. Padahal saat membaca tulisan “Welcome to the world happiest nation” di bandara, saya membayangkan kota yang penuh tawa. Di Copenhagen, sunyi bagian dari kebahagiaan.

copenhagen-danish-boys
Sepertinya umur mereka masih dibawah batas legal untuk merokok. Mungkin itu sebabnya rokoknya cepat2 disembunyikan saat saya minta ijin untuk memotret.

Kesan dingin berubah saat seorang anak muda lusuh masuk gerbong dan mengucapkan beberapa kata yang saya tidak tahu artinya. Seorang ibu membuka tas dan mengangsurkan apel, sementara seorang bapak menyodorkan sepotong kue pada anak muda itu.

Disaat lain, juga dalam kereta, kakek di depan saya membawa sepotong kayu bertali. Kayunya mengkilat bagus, dan dari caranya membawa, sepertinya sangat berharga. Penasaran, saya bertanya. Ternyata ia membawa busur panah tradisional, dan saya mendapat pelajaran singkat tentang seni memanah.

Sepertinya mereka hanya tidak mau menggangu ketenangan orang lain dengan basa-basi.

Konsep privacy mereka memang berbeda, apalagi bagi orang Asia. Di depan toko sering terlihat kereta bayi, lengkap dengan bayinya. Anak-anak itu tidak dibuang, hanya ditinggal belanja atau minum kopi sebentar. Tapi saya tidak melihat kereta bayi di depan bioskop atau stasiun kereta.

copenhagen-flowers

Sedikit Alkohol di Pagi Hari

Tentang kopi, warga Denmark salah satu peminum kopi terbanyak dunia. Mungkin karena mendung sering singgah di sini, hingga membuat mengantuk. Salah satu kedai kopi yang saya anjurkan adalah The Coffee Collective. Kalau kopi masih belum cukup, masih ada Gammel Dansk atau Denmark Tua, minuman berkadar alkohol 38%. Isinya campuran 29 macam rempah, yang saya ingat pala, jahe, kayu manis dan bunga pekak. Rasanya ? Seperti 29 macam rempah. Minuman ini biasa diminum pagi hari, dan memang ampuh mengusir kantuk. Sudah saya buktikan sendiri.

Toko permen juga banyak sekali. Permen yang khas adalah salmiak, bahannya akar wangi atau licorice dan garam. Rasanya tidak asing buat saya, rasa obat batuk hitam yang sering saya minum waktu kecil. Tidak heran, karena licorice adalah bahan obat batuk hitam.

Berbeda tapi tidak asing

Meskipun negara ini jauh dari tempat saya lahir, dan beberapa hal terlihat asing pada awalnya, lebih banyak persamaan yang saya temukan. Kopi, pala dan kayu manis di minuman, sepeda kumbang yang sampai sekarang masih banyak dipakai di kota-kota kecil Jawa, sampai nilai-nilai mereka. Jangan pamer, pakai yang masih bisa dipakai, tidak usil urusan orang lain, tidak berisik, bantu yang perlu pertolongan; nilai-nilai itu sepertinya pernah saya dengar sebelumnya. Mungkin karena kita dibesarkan dengan dongeng yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s