
Di Parakan semua orang tahu di mana tempat bah Kebek. Tapi kalau bertanya siapa nama asli beliau, tidak ada yang tahu jawabannya. Bah Kebek adalah pendiri rumah makan terkenal di kota ini. Ia mulai berjualan makanan digerobak, hingga akhirnya ia bisa membuka rumah makan kecil. Pembelinya antri sampai ke ujung jalan, selalu kebek (bhs Jawa : penuh). Karena itu ia mendapat nama bah Kebek.
Meskipun sangat terkenal, setidaknya di Parakan, tidak gampang mencari restoran ini. Tempatnya tertutup tembok tinggi. Tidak ada papan nama, tidak perlu papan nama, semua orang Parakan sudah tahu tempat ini.
Rumah makan bah Kebek sekarang dikelola Hok Jap Tjiauw, cucu bah Kebek. Jap Tjiauw masih setia dengan resep warisan bah Kebek. Menunya juga masih sama. Nasi, bakmi, bihun, cap jay, pangsit – dalam dua pilihan : goreng atau godog.
Kecap dan mie dibuat sendiri oleh Jap Tjiauw, juga denga resep bah Kebek. Mie dibuat setiap hari, memakai gilingan kayu dan pisau. Mie bikinannya tebal, konon mie Hokian yang asli ya memang seperti itu. Dan karena dibuat dengan tangan, “Kalau beli sekarang sama besok ya lain mienya” katanya.
Anak Jap Tjiauw sekarang tinggal di Jakarta, juga membuat mie, tapi sudah memakai mesin.